Selasa, 23 Maret 2010
analasis bagan semester 1
BAGAN :
Tujuan : Perlindungan Ketertiban Keadilan
Fungsi : Kekuatan Kekuasaan Kewibawaan
ANALISIS :
Negara adalah agency ( alat ) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan – hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala – gejala kekuasaan dalam masyarakat. Negara dapar dipandang sebagai asosiasi manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mengejar beberapa tujuan bersama. Seperti halnya tujuan Negara RI yang telah tercantum dalam undang – undang dasar 1945 :
• Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
• Memajukan kesejahteraan umum
• Mencerdaskan kehidupan bangsa
• Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Setiap Negara terlepas dari ideologinya menyelenggarakan beberapa minimum fungsi yang mutlak, yakni :
• Sebagai pusat kekuatan untuk melindungi serangan dari luar dengan pertahana militer
• Melaksanakan penertiban ( law and order ) untuk mencegah segala bentrokan dengan memanfaatkan fungsi Negara adalah pusat kekuasaan untuk mengatur segala kehidupan masyarakat.
• Memiliki kewibawaan untuk menegakkan keadilan dan tidak memandang dari segi subyektif.
[ Miriam Budiardjo (1978), “Dasar – Dasar Ilmu Politik” (hal 45 - 46) ]
Sehingga dari bagan tersebut dapat dijelaskan bahwa tujuan Negara dan fungsi Negara sangat berhubungan.
• Dimana dalam kehidupan bernegara, peran negara cenderung terlalu kuat dihadapan warga negaranya, untuk itu, warga negara membutuhkan perlindungan legal agar terhindar dari segala serangan dari luar ataupun bentrokan dari dalam. Untuk tujuan tersebut diperlukan fungsi kekuatan militer dan beberapa lembaga – lembaga legal yang melayani dan melindungi masyarakat.
• Dalam bernegara selalu diselingi beberapa konflik dan berbedaan. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi tindak tanduk penyimpangan. Dalam konteks ini perlu adanya ketertiban dan aturan – aturan yang terbentuk dalam kekuasaaan untuk mengatur dan membuat undang – undang yang disepakati bersama dalam memberikan sangsi bagi pelanggar aturan – aturan tersebut. Karena Kekuasaan adalah kemampuan menggunakan sumber pengaruh untuk mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik sehingga menguntungkan dirinya, kelompoknya atau masyarakat secara umum.
• Sedangkan untuk menciptakan ketertiban atau terhindar dari segala bentuk penyimpangan negara membutuhkan kewibawaan untuk menegakkan keadilan dan tidak memandang dari segi subyektif. Misalnya saja, penyalahgunaan kekuasaan dalam pemerintahan sebagai representasi negara, yang merugikan warga negaranya sendiri. Penguasa dapat dianggap melakukan perbuatan melanggar hukum karena melanggar hak subyektif orang bila penguasa tersebut melakukan perbuatan yang bersumber pada hubungan hukum perdata dengan warga negara serta melanggar ketentuan dalam hukum tersebut. Seandainya hal itu terjadi maka setiap orang berhak menuntut untuk mendapatkan keadilan melalui badan – badan pengadilan.
Dapat disimpulkan bahwa keseluruhan fungsi Negara diatas diselenggarakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
IAD semester1
Hubungan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam Terhadap Sosiologi Manusia
A. Latar Belakang
Ilmu Alamiah atau sering disebut Ilmu Pengetahuan Alam (Natural Science), merupakan pengetahuan yang mengkaji mengenai gejala - gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Sedangkan kami mempelajari Ilmu Alamiah Dasar yang hanya mengkaji konsep - konsep dan prinsip - prinsip dasar yang essensial saja. Sehingga pada pembahasan kali ini kami akan membahas Ilmu Alamiah Dasar secara lebih spesisfik lagi, yaitu pembahasan mengenai perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam yang berpusat pada teknologi manusia. Dimana kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan saat ini karena kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia. Dalam Ilmu Pengetahuan Alam yang berkembang pesat, manusia mulai menciptakan berbagai inovasi – inovasi yang dilakukan untuk membantu berbagai aktivitas manusia. Sehingga dalam hal ini, perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam terutama dalam bidang teknologi yang akan kami bahas sangat berhubungan erat terhadap sosiologi manusia. Namun demikian, walaupun pada awalnya diciptakan untuk menghasilkan manfaat positif, disisi lain juga memungkinkan digunakan untuk hal negatif. Karena itu pada makalah ini kami membuat dampak - dampak positif dan negatif dari kemajuan teknologi dalam kehidupan manusia.
B. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi
Ilmu pengetahuan alam sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut Suyoso (1998:23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti – hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yang teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal. Sedangkan menurut Abdullah (1998:18), Ilmu Pengetahuan Alam merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara satu dengan cara yang lain.” Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah – langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan.
Istilah “teknologi” berasal dari “techne” atau cara dan “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Terkait dengan teknologi, Anglin mendifinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu – ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan masalah. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang definisi teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan – akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera dan otak manusia. Menurutnya, teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi, sejak awal peradapan sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi” belum digunakan. Hanya saja Jaques Ellul memberi arti sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki cirri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. Sehingga pengertian teknologi secara umum adalah:
• Proses yang meningkatkan nilai tambah
• Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja
• Struktur atau sistem dimana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang mengguanakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat pakar teknologi dunia terhadap pengembangan teknologi. Menurut B.J Habibie (1983:14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu:
(1) pesawat terbang,
(2) maritim dan perkapalan,
(3) alat transportasi,
(4) elektronika dan komunikasi,
(5) energi,
(6) rekayasa ,
(7) alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan
(8) pertahanan dan keamanan.
C. Pengertian Sosiologi Manusia
Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu yang mempelajari tentang hubungan, sifat, perilaku, perkembangan masyarakat. Sosiologi juga merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sebagai cabang ilmu, sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuan perancis, August Comte yang kemudian dikenal sebagai bapak sosiologi.
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata yunani yang berarti cerita. Diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798 – 1857).
Dalam sosiologi aktivitas – aktivitas ilmiah mempermudah perubahan budaya. Inovasi baru dibidang keilmuan memperoleh ruang dan kesempatan formal. Seperti yang ditegaskan oleh Gillin dan Gillin, perubahan social dapat dipandang sebagai suatu variasi dari cara – cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan baik karena perubahan – perubahan kondisi geografis, kebutuhan materil, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi ataupun penemuan – penemuan baru dalam masyarakat tersebut. Sedangkan perubahan – perubahan sosial dan budaya yang secara jelas dapat terlihat melalui berbagai benda hasil budaya dan aktivitas kehidupan manusia. Terutama kaitannya dengan perkembangan dalam bidang industri, transportasi, komunikasi, kesehatan, sosial budaya, dan lain – lain.
D. Ilmu Pengetahuan Alam Sebagai Dasar Pengembangan Teknologi
Ilmu dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan pemanfaatannya dapat kita bedakan dalam Ilmu Pengetahuan Alam dasar atau murni, ilmu Pengetahuan Alam terapan, dan teknologi. Ilmu Pengetahuan Alam dasar, Ilmu Pengetahuan Alam terapan, dan teknologi mengkaji bahan pokok yang sama, yaitu alam. Perbedaan ketiganya terletak pada aspek yang dikajinya. Menurut Amor et al (1988) ilmuwan Ilmu Pengetahuan Alam dasar mencoba untuk memahami bagaimana alam bekerja. Sedangkan ilmuwan Ilmu Pengetahuan Alam terapan mencoba mencari cara untuk mengendalikan cara alam bekerja. Ahli teknologi memanfaatkan penemuan Ilmu Pengetahuan Alam dasar dan Ilmu Pengetahuan Alam terapan untuk membuat alat guna mengendalikan cara alam bekerja.
Konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam dasar terbentuk dari keingintahuan mengenai sesuatu yang belum diketahui orang. Keingintahuan itu menuntun kearah mencari prinsip atau teori yang dapat diperoleh dari hasil pengkajian, yaitu melalui percobaan. Pengkajian ini merupakan pengkajian yang tidak bermaksud untuk mencari kondisi atau proses optimal yang diharapkan, melainkan hanya untuk memenuhi penjelasan dari objek (benda dan energi) dan peristiwa alam. Konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam dasar merupakan konsep - konsep Ilmu Pengetahuan Alam mengenai kondisi, interaksi, dan peristiwa dari kondisi yang normal (biologi) atau ideal (fisika). Dalam konsep - konsep Ilmu Pengetahuan Alam dasar, seringkali ada variabel (parameter), yang dalam kenyataannya berpengaruh, tidak dimasukkan ke dalam konsep-konsepnya. Konsep - konsep itu sengaja disusun secara ideal atau normal agar berlaku umum, yang berarti dapat digunakan kapan saja dan dimana saja. Keberlakuan umum konsep - konsep tersebut luas, sehingga berfungsi sebagai konsep - konsep dasar bagi Ilmu Pengetahuan Alam terapan dan teknologi. Para ilmuwan menempatkan Ilmu Pengetahuan Alam dasar sebagai ilmu dasar bagi ilmu-ilmu terapan dan teknologi.
Teknologi dapat dibentuk dari Ilmu Pengetahuan Alam, tetapi dapat juga terbentuk tanpa Ilmu Pengetahuan Alam. Teknologi tanpa Ilmu Pengetahuan Alam dapat diibaratkan sebagai mobil yang mesinnya hidup dan bergerak maju, tetapi tanpa sopir. Betapa berbahayanya mobil itu, karena dapat menabrak apa saja yang ada di depannya. Jika ada sopir didalam mobil itu maka sopir akan mengendalikan mobil, sehingga mobil itu aman dan bermanfaat bagi manusia. Sopir itulah Ilmu Pengetahuan Alam. Jadi, Ilmu Pengetahuan Alam ada dalam teknologi dan mengendalikan teknologi, sehingga teknologi aman dan bermanfaat bagi manusia. Prinsip-prinsip dan teori-teori Ilmu Pengetahuan Alam dasar dan pengendalian alam dari Ilmu Pengetahuan Alam terapan digunakan dalam teknologi untuk menyusun objek-objek, membuat konstruksi di alam, dan membuat alat untuk mengendalikan cara alam bekerja.
Teknologi meliputi teknik menyusun objek, serta membuat konstruksi alam dan alat, sedangkan Ilmu Pengetahuan Alam mengenai properti (kondisi, kandungan dan sifat objek), interaksi, dan perubahan objek. Konstruksi alam dan alat mengatur bentuk, ukuran ruang, ukuran objek, pergerakan dan interaksi objek. Objek dengan properti dan interaksinya diatur oleh konstruksi atau alat, sehingga menimbulkan peristiwa yang diharapkan oleh perancang teknologi.
Dalam biologi, teknologi juga dapat diartikan sebagai teknik mengendalikan organisme dan sel-sel untuk menghasilkan sesuatu, misalnya mengendalikan jamur atau bakteri. Istilah engineering dalam bahasa Inggris menunjukkan teknologi. Contohnya Soil and Water Conservation Engineering dapat diterjemahkan dengan Teknologi (Teknik) Konservasi Tanah dan Air. Dalam Biologi, penggunaan istilah engineering dan technology berbeda. Membuat tape disebut biotechnology, tetapi membuat alat pacu jantung untuk dipasang pada tubuh manusia disebut bioengineering.
Konsep teknologi menggunakan konsep Ilmu Pengetahuan Alam dasar dan terapan, contohnya adalah merancang cara untuk membuat tanah berpori - pori, agar tanah dapat menyimpan banyak air kohesi, misalnya dengan membenamkan kompos atau bahan organik yang lain kedalam tanah dengan menggunakan teknik dan perhitungan tertentu.
E. Hubungan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam ( Teknologi ) Terhadap Sosiologi Manusia
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Ilmu Pengetahuan Alam juga sangat berperan dalam perkembangan teknologi karena Ilmu Pengetahuan Alam memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam terutama dalam bidang teknologi berhubungan erat terhadap sosiologi manusia.
Menurut Adolf Portman, secara biologis manusia dipandang sebagai premature karena manusia tidak memiliki daya penyesuaian terhadap lingkungan secara alami. Pada saat manusia lahir, mereka tidak akan bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain, perlindungan orang tua atau lingkungan. Tetapi lambat laun kekurangan ini diganti dengan kemampuan manusia untuk menciptakan suatu lingkungan tiruan yang bentuknya beraneka ragam. Dalam hal ini manusia dibekali teknik untuk membuat lingkungan menjadi cocok dengan dirinya, sehingga muncul kebudayaan manusia sebagai hasil abstraksi manusia terhadap lingkungan dan permasalahanya. Semakin tinggi tingkat kemampuan berabstraksi, semakin tinggi pula kebudayaan orang atau bangsa tersebut. Hingga akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam masyarakat.
Perkembangan Teknologi mengakibatkan perubahan signifikan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia, misalnya dalam pemenuhan kebutuhan primer masyarakat. Jika jaman dulu manusia sebagai mahluk susila memerlukan pakaian hanya untuk menutup auratnya, kemudian berfungsi untuk melindungi diri dari cuaca panas dan dingin. Sekarang pakaian mempunyai fungsi yang lebih luas lagi, yaitu selain untuk kenyamanan pakaian lebih ditekankan pada gengsi, mode, dan digunakan untuk menunjukkan stratifikasi seseorang. Hal itu tercipta karena adanya teknologi yang dapat meningkatkan mutu dan jenis pakaian sesuai yang kita inginkan. Juga dalam hal sandang dan pangan. Jika dalam masa tradisional pembuatan rumah dan kebutuhan pangan masih bergantung pada bahan yang ada disekitanya. Sekarang dengan pemanfaatan teknologi, manusia dapat menciptakan bibit unggul dengan teknik radiasi, rekayasa genetika, penggunaan hormon dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan untuk peningkatan kualitas dalam sandand dan pangan. Perkembangan teknologi informasi meliputi perkembangan infrastruktur teknologi, khususnya dalam bidang teknologi informasi, seperti adanya hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage), dan teknologi komunikasi (Laudon, 2006: 174). Perkembangan teknologi tidak hanya mempengaruhi dunia bisnis, tetapi juga bidang-bidang lain, seperti kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan lain-lain.
F. Dampak dan Manfaat dari Ilmu Pengetahuan Alam (Teknologi)
Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Tidak diragukan lagi kemajuan IPTEK telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Namun, pada sisi lain pesatnya kemajuan IPTEK juga cukup banyak membawa pengaruh negatif. Semakin kuatnya gejala "dehumanisasi" atau tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan dewasa ini, merupakan salah satu oleh - oleh yang dibawa kemajuan IPTEK tersebut. Bahkan, sampai tataran tertentu, dampak negatif dari peradaban yang tinggi itu dapat melahirkan kecenderungan pengingkaran manusia sebagai mahluk sosial. Tak hanya itu IPTEK juga bisa mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Berikut adalah manfaat dan dampak negatif dari Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi :
• Bidang Informasi dan komunikasi
Dampak Positif
A. Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui internet
B. Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone
C. Kita mendapatkan layanan pemerintah ataupun bank dengan sangat cepat, mudah dan dimana saja.
D. Orang yang tinggal didaerah pedesaan pun tidak akan merasa ketinggalan zaman karena masuknya teknologi.
Dampak Negatif
A. Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas)
B. Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet yang bisa disalah gunakan pihak tertentu untuk tujuan tertentu.
Contohnya situs porno untuk anak dibawah umur.
C. Kerahasiaan alat tes semakin terancam.
Melalui internet kita dapat memperoleh informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung dari internet.
D. Hubungan manusia dengan manusia lainnya lebih terkesan hanya dunia maya karena matinya budaya silaturahmi secara langsung.
E. Kecemasan teknologi.
Selain itu ada kecemasan skala kecil akibat teknologi komputer. Kerusakan komputer karena terserang virus, kehilangan berbagai file penting dalam komputer inilah beberapa contoh stres yang terjadi karena teknologi.
• Bidang Ekonomi dan Industri
Dampak Positif
A. Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi
B. Terjadinya industrialisasi
C. Produktifitas dunia industri semakin meningkat
D. Akan segera muncul teknologi bisnis yang memungkinkan konsumen secara individual melakukan kontak langsung dengan pabrik.
E. Adanya internet, konsumen bisa langsung berbelanja secara online tanpa harus pergi ke toko
F. Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki
G. Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu menjadikan produk kedokteran menjadi komoditi
Dampak negatif
A. Terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan
B. Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental “instant”. {mospagebreak}
C. Adanya Industrialisasi menimbulkan gangguan terhadap masyarakat sekitar karena adanya limbah, polusi, dan bencana.
E. Adanya garis pembatas antara yang kaya dan yang miskin
• Bidang Sosial dan Budaya
Dampak Positif
A. Perbedaan kepribadian pria dan wanita (Gender).
B. Meningkatnya rasa percaya diri
C. Tekanan, kompetisi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras
D. Memungkinkan adanya kenaikan stratifikasi sosial.
Dampak Negatif
A. Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar.
B. Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat
C. Pola interaksi antar manusia yang berubah.
Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga.
D. Terciptanya hubungan yang kurang harmonis terhadap manusia satu dengan lainnya.
E. Matinya rasa kekeluargaan, Gotong - royong, Simpatisme, dan kepedulian.
F. Adanya pembajakan, peniruan, dan pemalsuan merek dagang.
• Bidang Pendidikan
Dampak Positif
A. Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan.
B. Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
C. Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka.
Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain.
Dampak Negatif
A. Kerahasiaan alat tes semakin terancam Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk.. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut.
B. Penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Contonya dengan ilmu komputer yang tinggi maka orang akan berusaha menerobos sistem perbangkan, pembelajaran merakit bom dan lain sebagainya.
C. Guru bukanlah satu – satunya sumber ilmu.
D. Adanya perasaan malas untuk berfikir karena adanya browsing dalam internet.
E. Malas belajar karena kecanduan chatting, facebook, dan game online.
• Bidang politik
Dampak Positif
A. Timbulnya kelas menengah baru karena persaingan untuk mendapatkan status sosial.
B. Proses regenerasi kepemimpinan.
C. Dibidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh regionalisme.
E. Diakuinya HAM
Dampak Negatif
A. Penggunaan persenjataan canggih untuk menyerang pihak lain demi kekuasaan dan kekayaan.
B. Terorisme yang semakin merajalela.
C. Kurangnya privacy suatu negara akibat kerahasiaan yang tidak terjamin dengan semakin canggihnya alat –alat pendeteksi.
D. Adanya korupsi dalam kehidupan berpolitik.
E. Lunturnya rasa Nasionalisme.
G. Cara Mengatasi dan Menaggulangi
Untuk mencegah atau mengurangi akibat negatif kemajuan teknologi, pemerintah di suatu negara harus membuat peraturan-peraturan atau melalui suatu konvensi internasional yang harus dipatuhi oleh pengguna teknologi.
Adapun cara untuk melengkapi kecerdasan Generasi Bangsa saat ini dan Untuk melengkapi kecerdasan iptek para pelajar, diperlukan pula penyelarasan pengajaran iptek dengan pengajaran imtaq. Sehingga terbentuklah manusia-manusia cerdas dan bermoral yang dapat menghasilkan berbagai teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia.Diantaranya adalah:
(1) learning to know, yaitu para Generasi akan dapat memahami dan menghayati bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh dari fenomena yang terdapat dalam lingkungannya. Dengan pendekatan ini diharapkan akan lahir generasi yang memiliki kepercayaan bahwa manusia sebagai kalifah Tuhan di bumi diberi kemampuan untuk mengelola dan mendayagunakan alam bagi kemajuan taraf hidup manusia,
(2) learning to do, yaitu menerapkan suatu upaya agar para generasi menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang bermakna,
(3) learning to be, yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik yang mandiri, dan
(4) learning to live together, yaitu pendekatan melalui penerapan paradigma ilmu pengetahuan, seperti pendekatan menemukan dan pendekatan menyelidik akan memungkinkan para generasi menemukan kebahagiaan dalam belajar
H. Kesimpulan
Seseorang menggunakan teknologi karena ia memiliki akal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman, mudah, nyaman dan sebagainya. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat-perangakat mesin, seperti computer, kendaraan, handphone, dan lain sebagainya. Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Meskipun ada dampak negatifnya atau kelemahan dari kemajuan IPTEK. Namun hal ini seolah diabaikan oleh manusia, faktanya tidak dipungkiri lagi IPTEK dikembangkan setiap waktu.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terus berkembang seiring perkembangan peradaban manusia didunia Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Namun manusia tidak bisa menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa teknologi mendatangkan berbagai efek negatif bagi manusia. Contohnya saja dalam masyarakat cenderung hidup individual karena merasa dengan adanya teknologi canggih ia tidak membutuhkan lagi bantuan oarng lain. Juga adanya hidup yang komsumerisme karena inginnya memiliki suatu teknologi yang memudahkannya dalam melakukan aktivitas, dan lain sebagainya.
Sains dan Teknologi telah melekat erat ke dalam setiap gaya hidup dan kehidupan modern, bahkan begitu pentingnya bagi pelajar ataupun mahasiswa, dan menjadi tuntutan dalam kehidupan professional kita, maka belajar sains dan mengembangan ketrampilan sains dan teknologi pada saat ini adalah sangat penting dan menjadi keniscayaan. Pentingnya terampil berkomunikasi dapat dibuktikan secara sepintas melalui berbagai surat kabar harian/koran. Kebanyakan lowongan pekerjaan untuk posisi-posisi penting selalu mempersyaratkan penguasaan teknologi. Bahkan saat ini begitu terasa pentingnya bagi para pelajar Indonesia bertepatan dengan usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan investasi asing di Indonesia. Pengetahuan dan keterampilan ilmu sains dan teknologi memungkinkan kita dapat memasuki berbagai bidang profesi, namun demikian tanpa diikuti dengan pengembangan kreativitas pribadi maka keterampilan itu sendiri menjadi tidak berarti dan tidak menjamin dengan sendirinya masa depan yang cerah atau adanya pengembangan karir pribadi yang pasti.
I. Daftar Pustaka
• www.ejournal.unud.ac.id
• www.alambudsos.wordpress.com
• www.nano.lipi.go.id
• MGMP Karanganyar. 2008. Lks Sosiologi Kelas XII Semester 2. Karanganyar : Bakti Ilmu.
• Tim Sosiologi. 2006. Sosiologi 3. Jakarta : Yudistira
• Soekanto,soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
semester1
1. Mengapa mata kuliah pengantar Antropologi wajib diambil !
Jawab :
Karena mata kuliah pengantar antropologi berisi materi - materi dasar tentang kebudayaan yang sangat dianjurkan bagi mahasiswa ilmu sosial untuk mempelajarinya. Dalam mata kuliah ini diuraikan tentang konsep - konsep penting dalam ilmu antropologi. Tidak hanya konsep kebudayaan, yang menjadi fokus kajian ilmu antropologi dibahas secara rinci. Di samping itu, juga mempelajari konsep manusia dalam aneka warna masyarakat beserta proses biologis yang menyertainya sehingga terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri - ciri tubuhnya (Antropologi Fisik). Dari beberapa ilmu bagian dari antropologi kita juga bisa memahami asal – usul atau soal terjadinya dan evolusi mahluk manusia dengan mempergunakan fosil – fosil manusia dari zaman dahulu (Paleo-Antropologi), mempelajari timbulnya bahasa dari beratus – ratus bahasa suku – bangsa yang tersebar diberbagai tempat dimuka bumi ini (Etnolinguistik), juga menjelaskan mengenai azas – azas manusia dengan meneliti seperangkat kebudayaan yang tersebar dalam masyarakat (Etnologi).
Dalam kehidupan sehari – hari pengantar ilmu antropologi bisa juga digunakan untuk meneliti berbagai masalah pembangunan masyarakat desa, misalnya saja dalam masalah petani terhadap teknologi baru. Atau dalam dunia pendidikan dijadikan sebagai pengamat perkembangan metode pendidikan saat itu. Kadang kalanya ahli antropologi juga meneliti mengenai masalah konsepsi dan sikap penduduk desa tentang kesehatan, pemakaian obat – obat tradisional, kepercayaan terhadap dukun, atau kebiasaan – kebiasaan dalam lingkungannya. Bahkan antropologi juga mempelajari masalah kejiwaan seseorang dilihat dari latar belakang sosial – budayanya.
Dengan manfaat diatas dapat dijelaskan mengapa mata kuliah pengantar antropologi sangat penting dan wajib kita ambil. Tujuan dari mata kuliah Pengantar Antropologi ini adalah memperluas wawasan mahasiswa tentang kajian-kajian ilmu sosial pada umumnya, dan fenomena kebudayaan yang ada di masyarakat pada khususnya. Bagi para praktisi, mempelajari ilmu antropologi akan membantu memahami fenomena kebudayaan yang ada dimasyarakat sehingga dapat menyusun kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.
2. Apa perbedaan ilmu pengantar antropologi dengan sosiologi!
Jawab :
Secara sepintas antropologi dan sosiologi memang terlihat sama, seolah – seolah tidak ada perbedaan sama sekali. Tetapi jika kita amati lebih dalam, kedua ilmu itu justru sangat berbeda walau pada intinya sama yaitu tentang kehidupan manusia atau masyarakat. Coba kita tinjau lebih khusus, akan tampak beberapa perbedaan yang sangat menonjol dari keduanya, yaitu :
• Kedua ilmu itu masing – masing mempunyai asal – mula dan sejarah perkembangan yang berbeda
Ilmu antropologi mulai sebagai suatu himpunan bahan keterangan tentang masyarakat dan kebudayaan penduduk pribumi di daerah – daerah diluar Eropa untuk menjadi ilmu khusus karena kebutuhan orang Eropa dalam mempelajari tingkat – tingkat permulaan dalam sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaannya sendiri.
Sebaliknya, ilmu sosiologi mulai sebagai filsafat sosial dalam rangka krisis masyarakat di Eropa menyebabkan bahwa orang Eropa memerlukan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai azas – azas masyarakat dan kebudayaannya sendiri.
• Perbedaan pengkhususan kepada pokok dan bahan penelitian dari kedua ilmu tersebut.
Ilmu antropologi tertuju kepada obyek – obyek penelitian dalam masyarakat dan kebudayaan suku – suku bangsa yang hidup diluar lingkungan kebudayaan bangsa Eropa dan Amerika modern.
Sebaliknya, ilmu sosiologi tertuju kepada obyek – obyek penelitian dalam masyarakat dan kebudayaan suku – suku bangsa yang hidup dalam lingkungan kebudayaan bangsa Eropa dan Amerika itu sendiri.
• Perbedaan pada beberapa metode dan masalah khusus dari kedua ilmu tersebut.
Ilmu antropologi mempunyai pengalaman yang lebih lama dalam hal meneliti berbagai kebudayaan – kebudayaan suku – suku bangsa penduduk pribumi.
Sebaliknya, ilmu sosiologi selalu lebih memusatkan perhatian kepada unsur – unsur atau gejala khusus dalam masyarakat manusia, dengan menganalisa kelompok – kelompok sosial yang khusus, atau proses – proses yang terdapat dalam kehidupan suatu masyarakat.
Coba kita lihat sebagai contoh. Misalnya saja, ada dua orang ahli sosial yaitu ahli sosiologi dan ahli antropologi. Mereka harus meneliti masyarakat pada suatu daerah yang sama, maka kedua ahli tadi mengadakan pendekatan yang berbeda. Ahli antropologi akan meneliti semua unsure dalam kehidupan kota tersebut. Seperti misalnya, aktivitas kehidupan keagamaan, aktivitas kehidupan kekeluargaan, segala kepercayaan – kepercayaan, perbedaan ras dan suku dari daerah tersebut. Sebaliknya ahli sosiologi akan meneliti gejala – gejala atau proses – proses khusus dengan tidak perlu memandang dahulu akan struktur dari keseluruhannya. Seperti misalnya, perkumpulan gereja, hubungan pemerintah dengan penduduk, gerakan – gerakan buruh dalam kota, dll.
• Perbedaan pengalaman dalam hal meneliti masyarakat
Dunia antropologi mempunyai pengalaman yang lama dalam hal menghadapi aneka warna ( diversitas ) yang besar antara beribu – beribu kebudayaan dalam masyarakat kecil yang tersebar di seluruh muka bumi.
Sosiologi lebih berpengalaman dalam hal meneliti gejala masyarakat kekotaan yang komplek dan kurang memperhatikan sifat aneka warna dari hidup masyarakat.
• Perbedaan dalam pengertian dari kedua ilmu pengetahuan tersebut.
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah manusia dan budayanya. Sedangkan, sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia dan hubungan – hubungan dalam masyarakat.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa antropologi dan sosiologi adalah ilmu sosial yang sangat berbeda walau tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan dari kedua ilmu tersebut adalah sama yang memiliki dua kompleks yang saling dapat mengisi dalam proyek – proyek penelitian masyarakat yang sama pula. Berparadigma Sosiologi atau berparadigma Antropologi pun, secara keduanya saling melengkapi dan sulit dipisahkan.
Daftar Pustaka
• Bogdan,Robert Dan Steven J.Taylor. 1993. Kualitatif Dasar – Dasar Penelitian. Surabaya: Usaha Nasional.
• Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
tugas antropologi semester 1
1. Bagaimana antropologi mengulas tentang manusia dan apa bedanya ketika sosiologi yang mengulas tentang manusia? Jelaskan !
Jawab :
Devinisi Manusia : Pandangan Antropologi
Menurut Koentjaraningrat, antropologi adalah “ilmu tentang manusia”. Dalam perkembangannya di Amerika, antropologi dipakai dalam arti yang sangat luas, karena meliputi baik bagian-bagian fisik maupun sosial dari “ilmu tentang manusia”. Pada bahasan selanjutnya akan dikemukakan mengenai manusia dalam pandangan antropologi.
Pada awalnya didunia ini hanya ada satu sel yang kemudian berkembang dan mengalami percabangan-percabangan. Percabangan ini mengakibatkan adanya variasi mahluk hidup didunia ini. Menurut Charles Darwin dalam teori Evolusinya, manusia merupakan hasil evolusi dari kera yang mengalami perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama (evolusi). Dalam perjalanan waktu yang sangat lama tersebut terjadi seleksi alam. Semua mahluk hidup yang ada saat ini merupakan organisme - organisme yang berhasil lolos dari seleksi alam dan berhasil mempertahankan dirinya.
Dapat disimpulkn bahwa manusia dalam pandangan Antropologi terbentuk dari satu sel sederhana yang mengalami perubahan secara bertahap dengan waktu yang sangat lama (evolusi). Berdasarkan teori ini, manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini berasal dari satu moyang yang sama. Nenek moyang manusia adalah kera. Teori Evolusi yang dikenalkan oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus dipakai dalam antropologi.
Koentjaraningrat (2002), “Pengantar Ilmu Antropologi” (Hal 61-69)
Devinisi Manusia : Pandangan Sosiologi
Dalam artian ilmu sosiologi dan antropologi sebenarnya sama tapi bedanya disini yang lebih penting adalah reaksi yang timbul akibat suatu hubungan dalam setiap manusia. Manusia memiliki struktur-struktur sosial yang sudah ada, yaitu : manusia merupakan mahluk yang bersegi jasmaniah (raga) dan rohaniah (jiwa). Segi rohaniah manusia terdiri dari pikiran dan perasaan. Segi jasmaniah adalah tindakan dimana manusia tidak dapat hidup seorang diri. Sehingga manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial yang memiliki suatu naluri untuk hidup dengan orang lain. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain disebut gregariousness sehingga manusia juga disebut social animal (hewan sosial). Karena sejak dilahirkan manusia mempunyai 2 hasrat atau keinginan pokok, yaitu :
· Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya ( masyarakat )
· Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekitar.
Soerjono soekanto (2006), “sosiologi suatu pengantar” (hal 10l-105)
Dapat diperjelas bahwa dalam artian sosiologi manusia biasa dianggap menjadi suatu individu yaitu satuan kecil yang tidak dapat dibagi lagi. Individu menurut konsep Sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.
1. Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama
2. Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan
3. Rasio atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.
4. Rukun atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk suatu kelompok social yang sering disebut masyarakat
http://www.sosiologismadapareschool.blogspot.com/
Perbedaannya :
Sehingga perbedaan dalam definisi manusia menurut antropologi adalah bagaimana proses biologis dalam sejarah pembentukkan pra manusia hingga sekarang manusia. Sedangkan menurut sosiologi lebih ditekankan bagaimana proses sosial dalam pembentukan jatidiri seorang individu dalam masyarakat dimana ia memiliki raga dan jiwa yang telah dianugerahkan Tuhan.
2. Bagaimana antropologi mengulas tentang kebudayaan dan apa bedanya ketika sosiologi yang mengulas tentang kebudayaan? Jelaskan !
Jawab :
Secara sepintas memang tidak ada perbedaanya tapi jika dikaji dari asal katanya yakni bahasa Sansekerta dengan asal kata Budhayah yang berarti Budi atau Akal. Adapun istilah Culture yang merupakan istilah dalam bahasa latin Colore, yang berarti mengolah tanah atau bertani. Sehingga, Kebudayaan secara umum memiliki arti sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal fikira manusia yang bertujuan untuk mengolah tanah tempat tinggalnya menjadi lebih bernilai”. Atau dapat pula diartikan sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari, yang mengacu pada pola - pola perilaku yang diwariskan secara sosial, yang merupakan kekhususan kelompok sosial tertentu. Dengan begitu kebudayaan adalah hal – hal yang berhubungan dengan akal atau bisa dibilang Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.
www.wartawarga.gunadarma.ac.id
Devinisi Kebudayaan : Pandangan Antropologi
Konsep paling esensial dalam antropologi adalah konsep kebudayaan. Pada tiap disiplin ilmu sosial terdapat konsep kebudayaan, yang didefinisikan menurut versi yang berbeda-beda.
Menurut ahli Antropolog yaitu E.B. TYLOR (1871) Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola – pola perilaku yang normative. Artinya, mencakup segala cara – cara atau pola – pola berpikir, merasakan, dan bertindak.
Soerjono soekanto (2006), “sosiologi suatu pengantar” (hal 150-151)
Menurut koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal itu berarti bahwa setiap tindakan manusia adalah kebudayaan. Karena mustahil segala sesuatu yang dilakukan manusia diluar dari hal pembelajaran. Misalnya saja, berbicara, makan, teknologi, rumah, dan lain sebagainya.
Koentjaraningrat (2002), “Pengantar Ilmu Antropologi” (Hal 180)
Devinisi Kebudayaan : Pandangan Sosiologi
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan – kemampuan lain serta kebiasaan – kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat. Salah satunya dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang merumuskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, yang diperlukan manusia untuk menguasai lam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk kepentingan masyarakat.
Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaidah – kaidah dan nilai - nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah – masalah dalam arti luas. Didalamnya termasuk misalnya sajaagama, ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsure yang merupakan hasil ekresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat.
Soerjono soekanto (2006), “sosiologi suatu pengantar” (hal 150-151)
Dalam buku itu, Aguste Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual / kebudayaan, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya. Tiga tahapan itu adalah :
Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
http://www.wapedia.mobi/id/sosiologi?t=1
Perbedaannya:
Dengan kata lain, istilah kebudayaan yang digunakan hampir sama tetapi makna dari serapannya berbeda. Walaupun sama mengakui bahwa unsur dari kebudayaan ada tujuh, yaitu :
1. unsur religi
2. sistem kemasyarakatan
3. sistem peralatan
4. sistem mata pencaharian hidup
5. sistem bahasa
6. sistem pengetahuan
7. seni
Juga mengakui adanya beberapa kebudayaan paling sedikit memiliki 3 wujud antara lain :
1. wujud sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, norma, peraturan dan sejenisnya. Ini merupakan wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak, lokasinya dalam pikiran masyarakat dimana kebudayaan itu hidup
2. kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
3. kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia
Sekarang kita lihat bedanya. Dimana ahli antropologi lebih menekankan pada bagaiman hasil karya manusia melalui proses pembelajaran. Sedangkan ahli sosiologi lebih menekankan pola – pola perilaku yang membentuk struktur masyarakat. Sebagai contoh dalam penelitian kehidupan orang bali. Walu sama – sama objek orang bali tapi bahan yang akan diteliti sangat berbeda. Jika ahli antropologi akan meneliti bagaimana bahasanya, cara membuat pakaiannya, cara makannya dan lainsebagainya. Kalau ahli sosiologi lebih menekankan pada agamanya, religiusnya, kehidupan bermasyarakatnya ,dan lain sebagainya.
Daftar pustaka
http://www.wapedia.mobi/id/sosiologi?t=1
www.wartawarga.gunadarma.ac.id
http://www.sosiologismadapareschool.blogspot.com/
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar.
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Antropologi.
Sabtu, 26 Desember 2009
Kata mutiara Pengetahuan Adalah Kekuatan
Kata mutiara
Pengetahuan Adalah Kekuatan
Kata mutiara hari ini adalah tentang Pengetahuan Adalah Kekuatan. Artinya banyak orang mencapai sukses dengan pengetahuan yang dimilikinya. Orang yang memiliki pengetahuan bisa mengelola sumber daya alam, menciptkan teknologi yang berguna untuk menusia dan sebagainya. Tentu pula pengetahuan saja tidaklah cukup sampai pengetahuan tersebut jatuh ke tangan seseorang yang sanggup mengubahnya menjadi kemampuan bertindak, take action. Sekedar pengetahuan saja masih belum lebih dari sedikit diatas mimpi. Karena itulah Stop Dreaming Start Action menjadi penting.
Kata bijak ini mengandung makna bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang maka semakin besar dan pengaruhnya, tentunya kata mutiara tentang Pengetahuan ini dimaksudkan untuk pengetahuan yang digunakan secara positif. Semoga kata bijak hari ini dapat memperkuat motivasi Anda untuk meningkatkan pengetahuan Anda dan menggunakannya untuk kebaikan.
Masalah Pemerintahan Pusat Dengan Masyarakat Suku Bangsa!
Masalah Pemerintahan Pusat Dengan Masyarakat Suku Bangsa!
Antropologis terhadap konflik fokus pada aspek manusia. Utamanya perhatian pada adanya atau ketiadaan mekanisme penyelesaian konflik dalam masyarakat. Akar-akar konflik yang biasanya muncul menurut tesis pendekatan ini adalah perbatasan wilayah kelompok, kepemilikan, sumber air, kepemimpinan, dan dinamika keluarga seperti prosedur warisan, pertikaian rumah tangga, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Pendekatan antropologis yang menekankan aspek manusia punya keuntungan. Pertama, mereka lebih fokus pada “how to solve conflict” dengan mengajukan pertanyaan seperti apakah faktor penyebab konflik itu keragaman agama, etnis, bahasa, distribusi sumber daya, atau masalah yang berkaitan dengan factor geografis? Kedua, mereka menolak penjelasan konflik yang “state-centric”. Orang Dayak, Maluku, Madura, mungkin saja mengaku sebagai sebangsa Indonesia, tetapi mengapa konflik tetap muncul? Terkadang, beberapa pendekatan saling bertumpang-tindih tatkala kita menjelaskan suatu fenomena konflik di Indonesia. Ini tidak bisa terhindarkan akibat konflik antara manusia bukanlah sesuatu yang sederhana dan monofaktor.
Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia umumnya berkembang disekeliling kemajemukan masyarakat Indonesia. Warna suku bangsa, etnis, agama, dan pelapisan sosial kerap mewarnai konflik-konflik violence dan vandal yang muncul. Konflik yang berakar pada wacana primordialisme ini umum terjadi dalam konflik antara suku bangsa Madura, Melayu, dan Dayak di Kalimantan, antara Islam dan Kristen di Maluku dan Palu (Sulawesi Tengah), Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, Konflik Aceh, pembantaian 1966 di Jawa dan Bali, dan sejenisnya. Namun, tidak jarang juga konflik kadang muncul karena adanya kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan adat dan suku budaya mereka atau cenderung lebih menekan kebudayaan mereka. Beberapa contoh masalah pemerintah pusat dengan masyarakat suku bangsa:
1. Konflik Aceh
Konflik yang terjadi di Aceh punya akar sejarah yang panjang.3 Akar konflik tersebut berkaitan erat dengan relasi kekuasaan antara pemerintah pusat dengan sebagian rakyat Aceh. Sebab itu, masalah yang terjadi di Aceh terutama bersifat ekonomi-politik dan sosiologi-politik. Dahulu, Teungku Daud Beure’uh turut mendukung kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Untuk itu, negosiasi antara ia dengan pemerintah pusat adalah otonomi politik dengan penyelenggaraan syariat Islam. Namun, setelah merdeka Aceh tiada diberikan otonomi tersebut dan malah diintegrasikan ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Kekecewaan ini kemudian muncul dalam bentuk pembentukan tentara Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Aceh pada tahun 1953. Pemberontakan tersebut usai tanggal 26 Mei 1959 saat Aceh diberi status Daerah Istimewa dengan otonomi luas, utamanya dalam bidang adat, agama, dan pendidikan. Selain masalah kekecewaan pada pemerintah pusat, konflik di Aceh juga muncul akibat peminggiran identitas cultural masyarakat Aceh. Sebagai sebuah komunitas, Aceh telah punya konsep yang mapan tentang budaya mereka (terkait agama Islam) yang berkembang sejak masa kerajaan Samudera Pasai. Identifikasi cultural masyarakat Aceh yang dilekatkan pada agama Islam ini kemudian mendorong negosiasi politik antara pimpinan Aceh dengan pemerintah awal Indonesia untuk menyelenggarakan syariat Islam.
Pada perkembangannya, pemerintah pusat menerbitkan UU No.5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan UU No.5 tahun 1979 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Desa. Dengan kedua UU tersebut, kekhasan sosio-kultural Aceh tereliminasi. Struktur modern berupa RT, RW, Dusun, Desa, Kecamatan, Kabupaten, dan Provinsi harus diterapkan di Aceh menggantikan lembaga-lembaga adat yang telah ada sejak lama.4 Untuk menjamin terselenggaranya UU tersebut, pemerintah pusat menciptakan jaringan elit local yang jadi perpanjangan tangan dari elit pusat. Selain identitas cultural, Aceh pun mengeluhkan masalah eksploitasi dan ketimpangan ekonomi. Penekanan pemerintah Orde Baru pada pertumbuhan ekonomi mendorong eksploitasi besar-besaran pabrik LNG Arun dan pupuk Iskandar Muda. Dengan eksploitasi tersebut, Indonesia mampu keluar selaku eksportir LNG terbesar dunia dan 90% hasil pupuk pabrik di Aceh ini digunakan untuk ekspor. Eksploitasi kekayaan alam ini kemudian mendatangkan masalah tatkala terjadi minimalisasi pengembalian ke Aceh. Tahun 1993, dari hasil LNG Aceh pemerintah punya beroleh 6.664 trilyun rupiah, sementara yang kembali ke Aceh adalah 453,9 milyar rupiah. Minimnya pengembalian ini semakin parah tatkala dilakukan survey BPS tahun 1993, bahwa Aceh memiliki desa termiskin terbesar di Indonesia yaitu 2.275 desa. Ini ironis dengan banyaknya industry besar yang berada di Aceh. Pembangunan pabrik eksploitasi alam mendatangkan kaum pendatang ke Aceh, utamanya dari Jawa, di mana orang-orangnya lebih professional ketimbang Aceh. Gerakan Aceh Merdeka memperoleh dukungan luas dari ketimpangan etnis yang terjadi ini. Masyarakat Aceh mulai menyadari hasil tambang (gas dan minyak) hasil bumi mereka lebih banyak yang dibawa ke Jakarta ketimbang dikembalikan ke Aceh. Muara dari factor-faktor pendorong konflik di Aceh tersebut bermuara pada konflik militer GAM versus Pemerintah Pusat, dan di lapangan adalah ABRI (saat itu) versus GAM. Aceh masuk ke dalam Daerah Operasi Militer (DOM). Kondisi ini bukannya melemahkan GAM, justru sebaliknya, memperkuat justifikasi “eksploitasi” pusat (Jakarta) terhadap daerah.
2. Konflik Papua
Konflik Papua relative mirip dengan akar konflik yang terjadi di Aceh, terutama karakternya yang berhadapan dengan pemerintah pusat. Papua masuk ke wilayah Indonesia pada 1 Mei 1963 berdasarkan penjanjian yang ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dengan Belanda di New York pada 15 Agustus 1962. Kedaulatan Indonesia atas Papua kembali ditegaskan lewat Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) yang berlangsung pada Juli-Agustus 1969. Sejak saat itu Papua terus dilanda gejolak separatism hingga kini. Jika di Aceh ada GAM, maka di Papua ada OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang berdiri tahun 1964.5 Gerakan awal OPM terjadi tahun 1965 di Ransiki, Manokwari, tatkala Indonesia tengah berada dalam krisis politik 1965-1966. Aktitivitas umum OPM adalah maneuver-manuver sporadic guna menyerang pos-pos polisi dan tentara, sabotase sarana vital dan strategis seperti Freeport, menyerang transmigran, atau penghasutan massa. Esther Heidbuchel menyebutkan, lewat sejumlah perkembangan yang ia identifikasi, maka konflik Papua dapat dirunut kepada factor-faktor berikut :6
- Kurang mulusnya pelaksanaan Pepera yang pernah diadakan Indonesia tatkala mengambil alih Papua dari Belanda,
- Pelanggaran Hak Asasi Manusia, baik yang dilakukan pasukan Indonesia, utamanya dalam penegakkan hukum atas mereka,
- Pengabaikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat asli Papua. Ini termasuk marginalisasi sosial ekonomi mereka serta terbentuknya stereotip orang Papua itu ‘bodoh’ dan ‘gemar mabuk.’
Dalam perkembangan kemudian, masih menurut Heidbuchel, terbaginya komposisi penyelesaian konflik 3 jalan. Jalan pertama adalah Merdeka dan ini dimotori oleh OPM. Komposisi dari mereka yang pro kemerdekaan adalah rakyat biasa yang berpendidikan rendah, OPM, sebagian kecil elit Papua yang terdidik. Jalan kedua, pro Indonesia dengan status quo. Kelompok ini didukung oleh kaum migrant (orang-orang dari luar Papua), sebagian elit Papua yang terdidik, serta sebagian elit di pemerintah pusat. Jalan ketiga adalah Otonomi Khusus, yang didukung oleh mayoritas elit Papua, mayoritas elit pemerintah pusat, komunitas-komunitas agama, dan LSM.
3. Konflik Yang Terjadi Di Ambon
Suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari kolektivitas kelompok-kelompok masyarakat yang bersifat majemuk. Dari segi etnisitas, terdapat 656 suku bangsa dengan tidak kurang dari 300 jenis bahasa-bahasa lokal (daerah) yang terdapat di Indonesia dengan bahasa dan identitas budaya yang berbeda-beda satu sama lain. Tetapi kemajemukan itu tidak menghalangi keinginan untuk bersatu. Indonesia di perkuat dengan simbol Bhinneka Tunggal Ika, yang maknanya adalah pluralisme didalam kesatuan. Oleh karenanya, pluralitas masyarakat bangsa Indonesia sebagai suatu realitas sosial budaya dan realitas sejarah harus dilihat sebagai sesuatu yang seimbang. Dalam arti bahwa semua konsep, semua wancana, dan semua realitas mengenai pluralitas suku-suku bangsa itu di tempatkan pada tingkatan yang sederajat,. Di sini, kompleksitas permasalahan kesukubangsaan tidak direfleksikan oleh besarnya warga komunitas, tetapi lebih memfokuskan pada substansi masalah yang dihadapi dalam rangka menegakkan perasaan kebangsaan dan semangat persatuan. Jika kita berbcara tentang primordialisme, cenderung muncul hal-hal yang negatif yang sering menimbulkan konflik antar kelompok masyarakat. terutama di Indonesia. Hal-hal yang berbau agama, budaya, sosial, politik, dll. Banyak sekali peristiwa yang terjadi di Indonesia yang melibatkan masyarakat dalam ruang lingkup luas. contohnya saja, peristiwa yang terjadi di Ambon yang dilatarbelakangi konflik agama yang belum dapat terselesaikan sampai sekarang. Ambon merupakan gugusan pulau-pulau yang terdiri atas empat buah pulau yang letaknya ditengah-tengah kepulauan propinsi Maluku. Keempat gugus pulau tersebut adalah pulau Ambon dengan beberapa pulau kecil disekitarnya, meliputi pulau Haruku disebelah barat, pulau Saparua dan pulau Nusalaut di Ujung Timur. Luas pulau Ambon 761 km, pulau Haruku 289 km, pulau Saparua dan Nusalaut 202km. Punggung-punggung dari gunung-gunungnya terbentuk oleh belahan batu granit yang berbutir-butir halus. Pulau-pulau Ambon Lease terletak diatas lintasan gunung berapi dari pulau Banda ke Maluku Utara diantaranya pulau Ternate. Masyarakat Ambon umumnya menganut sistem kekerabatan patrilineal, dimana garis keturunan ditarik dari garis ayah (laki-laki). Jika kita melihat komposisi pemeluk agama terlihat bahwa Ambon merupakan contoh wilayah dengan tingkat heterogenitas pemeluk agama yang tinggi. Pemeluk agama Islam dan Kristen mempunyai proporsi yang cukup berimbang. Sementara itu, pemeluk agama Hindu dan Budha meskipun sedikit, namun tersebar di separoh lebih jumlah kabupaten Ambon. Hal tersebut yang membuat sumber keretakan hubungan antar warga Ambon. Tak heran jika isu agama yang paling dominan terhadap keretakan yang terjadi di Ambon. Pada umumnya warga masyarakat Ambon percaya bahwa konflik berkepanjangan tidak dapat dilepaskan dari motif politik. Kasus penyerangan desa Soya (mayoritas berpenduduk Kristen), yang kemudian berangkai dengan penghancuran café Robot (milik seorang Muslim dan biasa dijadikan tempat mangkal aktivis mahasiswa Islam) di desa Batu Merah. Dampak konflik yang disertai dengan kekerasan yang berlarut-larut yang terjadi di kodya Ambon telah menelan ribuan korban jiwa dan kerugian materiil yang luar biasa banyaknya. Kerusakan infrastruktur yang parah membuat roda perekonomian berjalan sangat lambat. Warga masyarakat terfragmentasi dalam dua kelompok besar, yakni umat Islam dam Kristen.
Sejak terjadinya konflik secara teritorial, desa-desa di Ambon terbagi kedalam desa-desa yang menjadi kekuasaan warga muslim dan desa-desa kelurahan yang menjadi kekuasaan warga kristiani. Selain pada tataran territorial, dampak konflik di Ambon merambah pada polarisasi wilayah kerja formal. Bukan hanya pasar yang terpisah tetapi juga kantor-kantor pemerintahpun, karena alasan keamanan para pegawainya yang juga terpaksa dipisah. Sektor lain yang terpukul akibat konflik berkepanjangan di Ambon adalah sektor pariwisata. Ambon yang indah, sesungguhnya mempunyai cukup banyak lokasi wisata. Tetapi lokasi-lokasi wisata tersebut telah sepi pengunjung, bahkan yang tampak saat peneliti melakukan observasi hanyalah tinggal puing-puing dan bangunan yang tak lagi bertuan. Selain kerugian materiil, sebagaimana yang telah diutarakan diatas, Ambon juga mengalami kerugian non-materiil yaitu hilangnya rasa kepercayaan antar warga masyarakat yang berbeda agama, munculnya rasa ketakutan, saling mencurigai dan rasa tidak aman. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah telah mengambil berbagai langkah penanganan konflik di Ambon, yaitu dengan cara menggunakan pola pendekatan top down. Berbagai inisiatif program penanganan selalu muncul dari ‘atas’, baik dari pejabat birokrasi sipil maupun militer. Akibatnya keterlibatan warga masyarakat yang notabene nya terlibat konflik kurang maksimal dalam penanganan tersebut. Sudah sepatutnya pemerintah melibatkan seluruh aspek dan lapisan masyarakat untuk terlibat dalam proses rekonsiliasi dan penyelesaian masalah di Ambon. Penyelesaian masalah melalui jalur cultural dengan memaksimalkan fungsi pranata-pranata sosial yang ada pada masyarakat Ambon, seyogianya menjadi prioritas karena dengan itu berarti pemerintah membatasi peran terhadap masalah yang semestinya mampu diselesaikan oleh warga masyarakatnya sendiri.